Pasir hitam di seberang jendela
Dunia selam menyebut Selat Lembeh sebagai ibu kota muck diving. Bukan karena terumbu karangnya — pembangunan pelabuhan membuat perairan Kecamatan Aertembaga tidak lagi memiliki terumbu karang sama sekali. Justru itulah daya tariknya. Penyelam datang dari seluruh dunia untuk melayang di atas pasir vulkanik hitam yang tampak kosong, lalu menemukan gurita mimik di dalamnya.
Penampang selat
Bukan terumbu karang yang dicari orang di sini, melainkan dasarnya. Pasir vulkanik hitam di kedalaman lima belas sampai tiga puluh meter — dan hewan-hewan yang menyamar di atasnya.
Dasar pasir vulkanik hitam — tanpa terumbu karangLereng digambar sejauh sumber kami menyebut kedalamannya. Dasar alur di tengah selat tidak tercatat di mana pun, jadi tidak digambar. Skala tegak dilebihkan.
Mengapa pasirnya hitam
Pasir di sisi daratan selat ini berwarna hitam karena berasal dari batuan vulkanik Gunung Tangkoko dan Dua Saudara. Di sisi Pulau Lembeh pasirnya lebih terang. Di atas latar gelap itulah hewan-hewan kecil yang menyamar menjadi terlihat — dan menjadi terkenal.
Bagaimana muck diving lahir di sini
Resor selam pertama di Lembeh dibuka pada 1994 dengan harapan menampilkan pari manta dan lumba-lumba. Beberapa tahun kemudian jaring hanyut mengosongkan selat dari hewan-hewan besar. Para penyelam pun mulai menunduk, memperhatikan pasir — dan menemukan bahwa yang kecil justru jauh lebih aneh. Larry Smith merintis penyelaman di selat ini dari Kungkungan Bay, di Kelurahan Tandurusa — satu kecamatan dengan Winenet Dua — dan melatih generasi pertama pemandu selam di sini.
Yang dicari orang di sini
- Gurita mimikThaumoctopus mimicus
- WonderpusWunderpus photogenicus
- Gurita cincin biruHapalochlaena sp.
- Frogfish berbuluAntennarius striatus
- Sotong flamboyanMetasepia pfefferi
- Kuda laut kerdilHippocampus bargibanti
- Naga laut LembehKyonemichthys rumengani
Naga laut Lembeh — panjangnya sekitar 2,7 sentimeter — dideskripsikan pada 2007 dan dinamai untuk Noldy Rumengan, pemandu selam setempat yang menemukannya. Seorang pemandu dari perairan ini punya nama yang melekat pada satu spesies.
Kondisi perairan
- Suhu air
- 26–29 °C sepanjang tahun
- Jarak pandang
- 5–15 meter
- Panjang selat
- ±16 km
- Lebar selat
- 1–2 km
Menyelam dengan hormat
Sampah laut adalah masalah nyata dan diakui terbuka di selat ini. Pemandu setempat mengenal setiap titik selam; menyewa mereka bukan formalitas melainkan cara paling masuk akal untuk menemukan sesuatu. Jangan memindahkan hewan untuk foto.

Pukul lima sore
Kapal huhate — pancing joran, satu ikan satu kail — berangkat dari Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung di kecamatan ini sekitar pukul lima sore. Tujuan pertamanya bukan ikan cakalang, melainkan umpan hidup.
- 17.00
Berangkat
Kapal meninggalkan pelabuhan sore hari. Delapan palka sudah diisi 300 sampai 400 balok es — lima belas sampai dua puluh ton — untuk pelayaran yang mungkin hanya dua sampai enam hari.
- Malam
Membeli umpan
Singgah dulu ke bagan dan soma dampar milik nelayan lain untuk membeli ikan umpan hidup. Tanpa umpan, tidak ada gunanya melaut.
- Subuh
Mencari gerombolan
Di mana tidak ada rumpon, nakhoda membaca laut: burung yang menukik, ikan yang memecah permukaan, kayu hanyut, lumba-lumba, paus.
- Pagi
Membuat laut mendidih
Air disemprotkan ke permukaan di sisi kapal agar tampak seperti gerombolan umpan yang panik. Dua juru umpan melempar ikan hidup dari haluan. Cakalang naik satu per satu di ujung joran bambu.
Nama-nama di atas kapal
- Nakhoda
- Kapten kapal
- Tonaas
- Sebutan kapten di soma pajeko — kata Minahasa untuk kepala, sekaligus pembaca ikan
- Juru mudi
- Pemegang kemudi
- Juru mesin
- Penjaga mesin
- Juru umpan
- Dua orang, satu di tiap sisi haluan, kerjanya hanya melempar umpan hidup
Enam puluh sembilan persen tangkapan huhate di Bitung adalah cakalang. Sisanya madidihang, tongkol, lemadang, sunglir.
Sertifikat yang diperoleh di sini
Pada Maret 2020, Asosiasi Nelayan Pole-and-Line Sengkanung Bitung menjadi perikanan pancing joran pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi Fair Trade USA.
Bitung berjuluk Kota Cakalang, dan patung cakalang menjadi penanda kotanya. Tujuh dari empat belas pabrik pengalengan ikan di Indonesia ada di kota kecil ini, dengan kapasitas gabungan sekitar 1.400 ton per hari.


