Potret warga Minahasa di dekat Airtembaga, pertengahan abad ke-20.

Sejarah & kalender

Yang sudah lewat, yang berulang

Dari enam dotu yang menjaga pesisir pada 1884 sampai kolintang masuk daftar UNESCO pada 2024.

Foto: C. J. Taillie · Tropenmuseum · CC BY-SA 3.0 · Kecamatan Aertembaga

Riwayat singkat

Sejarah tertulis Winenet Dua sendiri nyaris tidak ada. Tetapi kelurahan ini duduk di beberapa engsel sejarah — dan kotanya punya catatan yang layak dikenang.

  1. ±1884

    Enam dotu menjaga pesisir

    Menurut tradisi setempat, pemerintah kolonial melalui kepala Distrik Tonsea merekrut enam pemberani untuk menahan perompak dari Mindanao. Salah satunya perempuan: Magdalena Rotti.

  2. 1911

    Pateten menolak

    Belanda hendak menjadikan Pateten — kelurahan tetangga Winenet — sebagai konsesi perkebunan. Warga menolak, kepala distrik yang baru berpihak kepada mereka, dan rencana itu batal.

  3. 1918

    Bitung diakui

    Pemerintah Hindia Belanda mengakui Bitung sebagai negeri pada 1 Januari 1918. Saat itu ia sudah lama menjadi tempat nelayan berteduh.

  4. 1942

    Pendudukan Jepang

    Pertempuran Manado berlangsung 11–12 Januari 1942. Perang meninggalkan dua kapal kargo Jepang di dasar Selat Lembeh — dan sebuah makam tentara Jepang di Kelurahan Winenet, sekitar 3 km dari pusat kota, yang nyaris tidak terdokumentasi.

  5. 1961

    Trikora

    Tugu Trikora berdiri di Batu Lubang, Pulau Lembeh. Ukurannya adalah sebuah tanggal: panjang 9 meter, lebar 12 meter, tinggi 61 meter — 9 Desember 1961.

  6. 1969

    Cakalang menjadi industri

    Pengolahan cakalang di Sulawesi Utara terpusat di Aertembaga — kecamatan tempat kelurahan ini berada.

  7. 1975

    Kota administratif pertama di Indonesia

    Melalui Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1975 tertanggal 10 April, Bitung diresmikan sebagai kota administratif pertama di Indonesia.

  8. 1990

    Bitung menjadi kota

    Bitung resmi berstatus kotamadya pada 10 Oktober 1990 — tanggal yang sampai kini diperingati sebagai hari jadi kota.

  9. 1996

    Kecamatan ini lahir

    Dibentuk pada 6 Desember 1996 sebagai Kecamatan Bitung Timur, lalu berganti nama menjadi Aertembaga melalui Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2007.

  10. 1990-an

    Selat menemukan penyelam

    Resor selam pertama dibuka dengan harapan pari manta. Ketika hewan besar menghilang, penyelam menunduk ke pasir — dan muck diving lahir.

  11. 2002

    Pos pengamatan pindah ke Winenet

    Pos pengamatan Gunung Tangkoko dipindahkan ke Winenet. Tak lama kemudian gunung yang diam selama 122 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda.

  12. 2016

    Lima ribu orang bernyanyi

    Festival Pesona Selat Lembeh menggelar masamper massal dengan sekitar 5.000 penyanyi dan lomba lari 10K yang diikuti lebih dari 30.000 peserta — di kota berpenduduk sekitar 209.000 jiwa. Panggungnya di Pelabuhan Aertembaga.

  13. 2017

    Banjir bandang

    Pada 12 Februari 2017 pukul 05.00 WITA, hujan deras di Gunung Dua Saudara mengirim banjir bandang. BNPB mencatat 120 warga Winenet Dua kehilangan tempat tinggal pagi itu.

  14. 2022

    Jalan tol sampai

    Jalan Tol Manado–Bitung sepanjang 39,77 km diresmikan penuh pada 25 Februari 2022, memangkas perjalanan dari sekitar dua jam menjadi kurang dari satu jam.

  15. 2024

    Kolintang masuk daftar UNESCO

    Pada 5 Desember 2024 UNESCO menetapkan kolintang ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda — bukan sendirian, melainkan melalui berkas bersama ‘Balafon dan Kolintang’ yang diajukan Indonesia bersama Mali, Burkina Faso, dan Pantai Gading.

Kapal berlabuh di reede Bitung.
Kota BitungKapal berlabuh di reede Bitung.Foto: Marwan Mohamad · CC BY-SA 4.0

Setahun di sini

Kalender di pesisir ini disusun oleh jemaat dan festival, bukan oleh musim panen.

  • 31 Januari

    Tulude

    Upacara syukur tahun baru masyarakat Sangihe–Talaud. Dulu digelar akhir Desember, lalu digeser karena terlalu dekat dengan Natal. Pusatnya adalah tamo, kue tinggi berbentuk kerucut dari beras ketan, gula aren, dan kelapa, yang dipotong dan dibagikan kepada semua yang hadir. Formatnya berubah tiap tahun: pada 2024 Pemerintah Kota Bitung menggelarnya di kedelapan kecamatan, termasuk Aertembaga, sebelum ditutup di kantor wali kota.

  • Juli–September

    Pengucapan Syukur

    Perayaan syukur panen Sulawesi Utara, turunan dari ritual pra-Kristen Foso Rumages. Aturannya yang bertahan sampai kini sederhana: pintu dibuka, siapa pun boleh masuk dan makan.

  • Oktober–Desember

    Festival Pesona Selat Lembeh

    Festival tahunan Kota Bitung, tumbuh dari Festival Selat Lembeh yang digagas warga sejak 2009. Tanggalnya berpindah-pindah — edisi 2016 digelar 6–10 Oktober, sedangkan edisi 2024 baru berlangsung 11–13 Desember. Acara khasnya adalah Sailing Pass: dua puluh taksi laut yang biasa menyeberangkan orang dicat menjadi kanvas terapung dan berarak menyusuri selat.

  • 10 Oktober

    Hari Jadi Kota Bitung

    Peringatan penetapan Bitung sebagai kotamadya pada 1990.

  • Setiap Minggu

    Ibadah

    Pagi hari Minggu, kelurahan ini sunyi dan gerejanya penuh. Jika Anda ingin melihat Winenet Dua sebagaimana ia memandang dirinya sendiri, inilah waktunya.

Bunyi-bunyian

Masamper
Tradisi menyanyi berbalasan khas Sangihe–Talaud. Namanya turunan dari kata Belanda zangvereniging, perkumpulan menyanyi. Satu kelompok bernyanyi, lalu menyerahkan setangkai bunga kepada lawannya, yang wajib menjawab.
Kolintang
Gambang kayu Minahasa. Pada 5 Desember 2024 UNESCO menetapkannya lewat berkas bersama ‘Balafon dan Kolintang’ — diajukan Indonesia bersama Mali, Burkina Faso, dan Pantai Gading. Namanya berasal dari bunyinya sendiri: tong, ting, tang.
Kabasaran
Tarian perang Minahasa, berbusana merah dengan hiasan kepala berbulu. Penarinya harus keturunan penari kabasaran, dan pedang santi serta tombak wengkouw yang dibawa adalah pusaka keluarga. Tariannya berakhir dengan lalaya’an — senjata diletakkan.
Maengket
Tarian siklus pertanian Minahasa, terdiri dari tiga bagian. Namanya dari ‘ma’ (melakukan) dan ‘engket’ (mengangkat tumit berirama).
Musik bambu & musik bia
Orkes bambu tumbuh dari susulingan, suling kecil penjaga kebun. Musik bia dimainkan dengan tiupan cangkang siput laut — orang Minahasa menyebutnya pontuang — dan berkembang pada masa pendudukan Jepang.